Mendidik manusia
MENDIDIK MANUSIA
Manusia adalah ciptaan, oleh karena itu mendidik
manusia seperti apa, bagaimana caranya, dan apa tujuannya, yang paling tepat
adalah dengan memahami manusia itu melalui sudut pandang sang pencipta manusia,
apa maksud dan tujuan penciptaan manusia. Untuk
memahami ini mari kita mengambil Ibrah dari Surat Al Alaq
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ. ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ.
ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ. عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam.
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
ٱقۡرَأۡ
Bacalah !
Iqro bukan sekedar bermakna membaca huruf, bukan
sekedar untuk menjadi melek huruf, karena bila sekedar itu yang dimaksud, Nabi
Muhammad kala itu berkali-kali berkata: “laa aqro…laa aqro… saya tidak bisa
baca… saya tidak bisa baca”, dan pasti Jibril tahu bahwa Nabi Muhammad memang
tidak bisa membaca, Nabi Muhammad buta huruf! Tapi Jibril terus merengkuh tubuh
nabi Muhammad sambil berulang-ulang berkata Iqro! ... Iqro ... Iqro!
seakan memaksa-maksa Nabi.
Iqra tidak mungkin hanya bermakna ‘membaca tulisan’
karena itu hanya sekedar ketrampilan berfikir tingkat rendah, dan tidak mungkin
seorang Nabi hanya memiliki ketrampilan level rendah. Jadi Iqro pasti merupakan
ketrampilan berfikir tingkat tinggi (higher
order thinking skill). Ini dikuatkan dengan banyaknya firman Allah yang
menyuruh kita berfikir tentang ayat-ayat kauniyah Nya.
‘Iqro’ akan
lebih tepat bermakna membaca dalam pengertian ‘berfikir aktif’ yaitu kemampuan
menerima informasi, mengamati, menelaah, menganalisa, observasi, meneliti,
mendefinisikan, menguraikan, membandingkan, mengaitkan, membuat hipotesa,
menarik kesimpulan, dan memutuskan, serta mengevaluasi; untuk menemukan makna
tersembunyi, menemukan arti dan hakekat dibalik apa yang terlihat, terdengar
dan terasa.
Berfikir dengan cara apa?
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ
Yaitu
berfikir dengan mengambil sudut pandang dari Rabb sang Pencipta. Bukan hanya
dan sekedar menggunakan dan mengandalkan kemampuan berfikir akal manusia.
Memang, dengan
adanya otak secara fisik membuat manusia memiliki sumber daya untuk berfikir,
dengan sumber daya berfikir manusia memiliki kemampuan untuk berfikir mendalam
dan mencipta. Dengan berfikir manusia bisa menciptakan aturan-aturan, tahu cara
bercocock tanam, tahu cara membuat rumah, mobil, membangun teknologi, bahkan
menciptakan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Namun berfikir mendalam dengan menggunakan dimensi
akal manusia saja (filsafat), faktanya manusia tidak mampu menemukan hakekat
yang hakiki tentang hidup dan kehidupan. Tentang segala sesuatu tentang dunia
dan semesta, tentang manusia, kenapa manusia dilahirkan tapi kemudian
dimatikan, lalu untuk apa manusia hidup? Tentu yang tahu ini semua adalah dzat
yang menciptakan hidup dan kehidupan itu sendiri. Itulah kenapa berfikir kita
harus menggunakan dimensi berfikir dari Rabb Sang Pencipta, dari sudut pandang
Rabb. Mengapa begitu ?
Ya, karena Rabb itulah Dzat yang Menciptakan segala sesuatu itu :
بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ
Ini adalah ayat tentang keimanan, tentang belief
pembentuk mindset, tentang keyakinan dasar, tentang Aqidah: bahwa ar-Rabb itu
ada dan Dialah sang Pencipta. Itu pesan pentingnya.
Kita difahamkan untuk menggunakan
akal kita, untuk meyakini bahwa Rabb Sang Pencipta itu ada dan bisa dirasakan.
Keimanan adalah keyakinan yang diawali dari pengetahuan yang kemudian menjadi
sesuatu yang kita yakini kebenarannya. Konsekuensi percaya Rabb Sang Pencipta
ada, adalah harus yakin pula bahwa untuk ber-iqra harus berlandaskan dimensi ketuhanan.
Dan Rabb sang Pencipta itu tidak sekedar
menciptakan alam semesta, tapi juga yang menciptakan manusia itu sendiri,
menciptakan manusia dari Al-Alaq.
خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
Manusia adalah mahluk yang juga diciptakan,
diciptakan oleh Rabb yang menciptakan alam semesta. Maka kedudukan manusia adalah mahluk, dan
Rabb adalah Khalik. Oleh karena itu
manusia harus tahu diri, bahwa ia bukan yang terhebat dimuka bumi ini, ada yang
lebih tinggi :
ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia
Berfikirlah wahai manusia, camkan bahwa Rabb sang
Pencipta itu Agung dan Mulia, maka manusia dengan segala kerendahan derajatnya
dan segala kelemahannya sebagai mahluk sudah semestinya meng-Agungkan dan
Memulikan Rabb yang menciptakannya itu.
Dengan cara apa Meng-Agungkan-Nya? Bagaimana cara
Memulikan Rabb sang Pencipta? Bukalah mata, buka telinga, buka hati, buka
perasaannya karena Rabb sang Pencipta akan mengaruniakan sesuayu yang sangat
berarti bagi manusia
ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ.
Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran qalam
Bagaimana membuat alat untuk
manusia bisa duduk, manusia dengan akalnya bisa membuat kursi. Bagaimana cara
agar ketika manusia pergi melewati laut tidak tenggelam dan mati, manusia bisa
menciptakan kapal laut. Bagaimana agar manusia bisa pergi ke tempat yang jauh
dengan cepat sebagaimana burung, manusia bisa membuat pesawat terbang. Bahkan
manusia dengan akalnya mampu menciptakan robot ala manusia dengan kecerdasan
buatan, bisa menjawab ketika diajak bicara. Karya yang begitu kompleks, manusia
tahu caranya.
Tetapi sesungguhnya manusia tidak tahu dan tidak
mengerti tentang hakekat manusia, hakekat hidup, hakekat kehidupan. Apa arti
hidup, apakah hidup hanya di dunia saja? Untuk apa manusia dilahirkan tapi
kemudian dimatikan? Lalu untuk apa manusia hidup? Kemana perginya ayah ibu kita
setelah mati? Apakah setelah mati ada kehidupan lagi? Mengapa ada orang baik
tapi juga ada manusia jahat? Dan sterusnya, Manusia tidak tahu secara hakiki,
Rabb yang kan mengajarkannya.
عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya
Maka sudah semestinya manusia mau menerima apa yang
Rabb sang Pencipta ajarkan. Mengajarkan tentang apakah dibalik semesta yang tak
lagi mata mampu melihatnya. Mengajarkan tentang hakikat hidup dan kehidupan.
Mengajakan kehidupan sebelum kehidupan dunia, mengajarkan kehidupan setelah kematian.
Mengajarkan apa yang akan terjadi di hari akhir nanti. Mengajarkan apa makna
kebaikan bagi manusia. Mengajarkan hal-hal yang manusia tidak tahu, termasuk
mengajarkan manusia untuk apa hidup, apa kewajiban manusia dan apa peran
manusia di dunia ini.
Dan inilah apa yang Rabb ajarkan
melalui kitab suci yang tiada keraguan di dalamnya, inilah tujuan Rabb sang
Pencipta menciptakan manusia :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada Ku.”
(QS Adzariyat 56)
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Dan ingatlah ketika Rabb mu berfirman kepada para
Malaikat:
"Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".
(QS Al Baqarah :
30)
Ternyata manusia diberi kewajiban hidup
di dunia ini dengan 2 misi yaitu :
1.
Menjadi hamba yang mengabdi dengan beribadah hanya kepada
Allah
2.
Menjadi Khalifah mengelola kehidupan manusia serta mahluk
lainnya di bumi
Pada pokoknya Allah
menciptakan semua mahluk adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya. Kemudian
setiap mahluk punya tugas dan misi hidupnya masing-masing. Selain beribadah
kepada Allah, malaikat punya tugas tersendiri. Selain bertasbih kepada Allah,
tumbuh-tumbuhan atau hewan hewan juga memiliki tugas dan perannya masing masing
:
يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ
“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa
bertasbih kepada Allah. Maharaja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana”. (QS Al-Jumu'ah: 1)
Demikian juga manusia selain
kewajiban beribadah menyembah Allah, juga memiliki misi, yaitu menjadi khalifah
di muka bumi. Agar misi manusia berhasil maka Allah beri kitab berisi petunjuk
dan ajaran kepada manusia yaitu Ad Dien Islam
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam
itu jadi agama bagimu. ( QS Maidah : 3)
Dienul Islam melalui Al Quran
kitab suci yang di dalamnya tidak ada keraguan mengajarkan pokok-pokok Dienul
Islam, baik disampaian secara langsung maupun melalui kisah kisah yang
ber-ibrah. Al Quran dan As-Sunah inilah yang menjadi sumber aturan Dienul
Islam. Juga menjelaskan tugas utama manusia yaitu beribadah hanya kepada Allah.
Dari kewajiban beribadah inilah kemudian muncul dan
berkembang ilmu-ilmu lainnya. Awalnya Allah memerintahkan manusia untuk beribadah.
Ibadah yang paling pokok adalah Shalat, untuk shalat manusia harus menutup
aurat, maka dibuatlah kain untuk menutup aurat, berkembanglah ilmu pertenunan.
Untuk mampu tegak berdiri dalam ibadah, manusia perlu makan, maka berkembanglah
ilmu pertanian. Agar bisa hidup secara baik sehingga terus mampu beribadah,
manusia butuh tempat tinggal, maka berkembanglah ilmu pertukangan dan arsitek.
Dalam beribadah Allah memerintahkan beribadah secara berjamaah, maka
berkembanglah ilmu sosial. Islam mensyariatkan manusia untuk menikah dan berketurunan, dalam proses melahirkan
dibutuhkan manusia yang ahli dibidang itu, dan terkadang manusia juga sakit,
maka berkembanglah ilmu kedokteran. Dalam ibadah shalat ada waktu-waktunya,
dibutuhkan alat menentu waktu; ada adzan tanda waktu shalat tiba, dibutuhkan
pengeras suara; bagi yang mampu harus membayar zakat, dibutuhkan alat
timbangan; ada perintah haji, manusia di luar jazirah arab harus menyeberang
lautan, dibutuhkan kendaraan yang cepat; dan seterusnya. Dari perintah
beribadah lalu berkembanglah berbagai disipilin ilmu: ilmu sosial, ilmu
ekonomi, ilmu kedokteran, ilmu pertukangan, ilmu pertenunan, ilmu komunikasi,
dan berbagai ilmu pokok maupun ilmu cabang dan teknologi.
Pengelolaan kehidupan manusia,
dengan mengembangkan berbagai ilmu dan teknologi, agar manusia bisa hidup
secara baik, rukun, damai, adil dan makmur sehingga manusia bisa beribadah
kepada Allah dengan baik dan khusu’, inilah
misi kedua manusia hidup di dunia, yaitu menjadi khalifah fiil ardh,
pengelola kehidupan di muka bumi.
BAGAIMANA MENDIDIK MANUSIA?
Dari ibroh diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa :
1. Pendididkan adalah bagaimana caranya mengajar agar
manusia mampu ber-iqro, ‘berfikir aktif’ yaitu
kemampuan menerima informasi, mengamati, menelaah, menganalisa, observasi,
meneliti, mendefinisikan, menguraikan, membandingkan, mengaitkan, membuat
hipotesa, menarik kesimpulan, dan memutuskan, serta mengevaluasi; untuk
menemukan makna tersembunyi, menemukan arti hakiki dibalik apa yang terlihat,
terdengar dan terasa, dengan mengikuti persepsi ke-Rabbaniyah-an, karena
kebenaran datangnya dari Rabb saja: Al Haqu min Rabbikum !
2. Pendidikan adalah bagaimana caranya memahamkan
manusia untuk ber-Iqro bahwa manusia adalah mahluk yang diciptakan al Khalik.
Khalik itu Maha Mulia maka kewajiban manusia adalah memuliakan Rabb sang
Pencipta dengan bertaqwa kepada-Nya.
3. Pendidikan adalah bagaimana melatih dan
mendisiplinkan manusia agar beribadah kepada Allah. Beribadah berarti
menyembah Allah dengan sepenuh keikhlasan, tanpa mensyirikan-Nya.
4. Pendidikan adalah bagaimana membina manusia agar berperilaku
baik, berahlakul karimah, sehingga
memiliki kemampuan beramal jamai dengan baik dan berkehidupan yang harmonis.
5. Pendidikan adalah bagaimana menggali potensi
manusia, karena setiap mahluk, juga setiap manusia selain berkewajiban
beribadah, ia juga memiliki misi khususnya sendiri, sehingga ia mampu mandiri
dan mampu berfungsi menjadi khalifah dengan beramal
shalih sesuai bidang yang cocok dengan syakilah-nya
serta bermanfaat banyak bagi kehidupan mahluk lainnya.
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلا
“Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut syakilah-nya masing-masing,
maka Rabb mu lebih mengetahui siapa yang lebih
benar jalannya”.
(QS 17 : 84)
“Setiap orang akan dimudahkan melakukan sesuatu,
yang karenanyalah ia diciptakan”
(Hadits Shohih)
Atas ibroh tersebut dapat diambil hikmah bahwa ketika kita ingin
membangun suatu sistem pendidikan untuk mendidik manusia, kita terlebih dahulu
harus ‘memahami’ apa maunya Allah dalam menciptakan manusia.
Kita harus menyelaraskan tujuan pendididkan dengan tujuan untuk apa
Allah menciptakan manusia, untuk tugas apa, untuk misi apa. Dan bagaimana
mendidiknya, kita harus menyesuaikan cara-cara mendidik dengan keadaan seperti
apa manusia itu menurut apa yang Allah firmankan.
Wallahu a’lam.
Bandung, 17 Agustus 2022
Komentar
Posting Komentar